Pages



Seorang karyawan telah bekerja keras selama 5 tahun, namun status dan jenjang karirnya tak kunjung naik. Perusahaan tempat bekerja nya sekarang memang belum memiliki aturan tentang jenjang karir yang jelas. Di sisi lain anak istrinya perlu biaya besar untuk biaya hidup yang semakin tinggi. Sebuah perusahaan kompetitor menawarkan gaji yang berlipat ganda dan karir yang lebih cemerlang asal karyawan tersebut mau mmbocorkan rahasia perusahaan tempat bekerjanya sekarang. Gambarkan bagaimana karyawan ini menghadapi dilema nya.

Jawabannya : Karyawan tersebut sangat dilema karena dia sangat membutuhkan uang untuk biaya keluarganya.Sedangkan disatu sisi dia ditawari pekerjaan yang lebih bagus penghasilannya tapi dengan cara dia membocorkan rahasia perusahaannya.Akhirnya setelah sekian lama bekerja dia diberi kenaikan jabatan dan penambahan gaji oleh bos dari perusahaannya tersebut sehingga dia menolak tawaran yang datang dari perusahaan saingan perusahaanya.Dan dia hidup bahagia sampe akhir hayat...

Tsutomu Shimomura

2 Comments Diposting oleh Melvin E Ginting Senin, 04 April 2011 di 19.51



Lahir di Jepang,Tsutomu Shimomura adalah anak Osamu Shimomura, pemenang 2008 Nobel Kimia. Ia dibesarkan di Princeton, New Jersey dan dihadiri Princeton High School.
Di Caltech ia belajar di bawah pemenang Nobel Richard Feynman. Setelah Caltech, ia melanjutkan bekerja di Los Alamos National Laboratory, di mana ia melanjutkan tangannya-pendidikan di posisi fisikawan staf dengan Brosl Hasslacher dan lain-lain tentang topik, seperti Lattice Gas Automata.
Pada tahun 1989, ia menjadi seorang ilmuwan penelitian di fisika komputasi di Universitas California di San Diego, dan rekan senior di San Diego Supercomputer Center. Shimomura juga menjadi seorang ahli keamanan komputer mencatat, bekerja untuk National Security Agency.
Pada tahun 1992, ia bersaksi di depan Kongres mengenai isu-isu tentang privasi dan keamanan (atau ketiadaan) pada telepon seluler.
Ia terkenal untuk kegiatan tahun 1995, ketika dia dibantu dengan melacak "penjahat komputer" Kevin Mitnick. Shimomura dan wartawan John Markoff menulis sebuah buku, Takedown, tentang pengejaran, dan buku itu kemudian diadaptasi menjadi film dengan nama yang sama.
Shimomura bekerja untuk Sun Microsystems pada 1990-an.
Shimomura saat ini tinggal di daerah / Reno Tahoe.

Tsutomu Shimomura adalah anggota senior di San Diego Supercomputer Center, di mana dia bekerja pada masalah di daerah yang beragam seperti fisika komputasi dan keamanan komputer. Dia datang ke Universitas California di San Diego pada tahun 1989 untuk bergabung dengan departemen fisika sebagai ilmuwan penelitian.

Ia telah mempelajari fisika dengan pemenang Nobel Richard Feynman di Institut Teknologi California dan telah bekerja sebagai associate penelitian dengan fisikawan Steven Wolfram. Pada musim panas tahun 1984 ia bekerja di Berpikir Machines Corporation, membantu Cambridge, komputer paralel besar-besaran Misa berbasis desain perusahaan start-up sistem disk untuk mendukung gerakan cepat dari database yang luas.

Pada musim gugur 1984 ia menjadi staf ahli fisika di Los Alamos National Laboratory, di mana ia adalah salah satu arsitek dari komputer paralel maju. Dia juga bekerja di divisi teoritis Laboratorium dengan Brosl Hasslacher, salah satu peneliti terkemuka bangsa di bidang fisika komputasi. Hasslacher Shimomura membantu dalam mengembangkan pendekatan radikal untuk mensimulasikan aliran fluida berdasarkan model baru komputasi, dikenal sebagai kisi automata gas. Ia mengambil keuntungan dari paralelisme alam dan secara dramatis kecepatan komputasi pada berbagai masalah.

Dalam beberapa tahun terakhir Shimomura juga bekerja di bidang penelitian komputer keamanan. Dia telah berkonsultasi dengan beberapa instansi pemerintah tentang isu-isu keamanan dan kejahatan komputer. Pada tahun 1992 ia bersaksi di depan Komite Kongres diketuai oleh Wakil Edward Markey pada isu seputar kurangnya privasi dan keamanan di telepon selular. Pada Februari 1995 ia membantu beberapa layanan online dan perusahaan-perusahaan Internet melacak penjahat komputer Kevin Mitnick, yang telah mencuri perangkat lunak dan surat elektronik dari komputer Shimomura's. Dia adalah penulis Takedown: The Pursuit dan Penangkapan America's Most Wanted Computer Outlaw - By The Man Siapa Melakukannya, dengan John Markoff (Hyperion, Januari 1996).

Warga Negara Jepang, Shimomura dibesarkan di Princeton, New Jersey. Dia tinggal di daerah San Diego di mana dia adalah seorang skater inline aktif. Ia juga seorang pemain ski lintas negara avid.

Penulis Bruce Sterling menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Shimomura dalam film dokumenter Freedom Downtime:
"Itu di depan Kongres, dan aku bersaksi ke subkomite Kongres. Dan di sini adalah orang ini di sandal dan, seperti, celana compang-camping-keledai, dan sisanya dari kami dilakukan dalam hubungan [...] memberikan semacam terbaik dari 'ya, kami di depan Kongres' hal dan Shimomura ada di gigi surfer.

Pemilik merasa tersinggung atas tulisannya, padahal wartawan itu selama ini diakui tak pernah bikin masalah. Kini, jurnalis tersebut tengah hamil delapan bulan.

Ada satu lagi kasus unik yang berujung pemecatan kuli tinta. Peristiwa itu kali ini menimpa Sri Rahayu Arman, redaktur Majalah Paras. Lantaran menulis sebuah artikel yang menyinggung perasaan si pemilik media, wanita yang sedang hamil depalan bulan itu pun menuai buah pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ayu, panggilan Sri Rahayu, menulis artikel berjudul “Haram Menelantarkan Hak-Hak Pekerja” pada edisi terakhir Majalah Paras. Tulisan itu dimuat dalam rubrik Info Islam terbitan terakhir Nomor 46 Juli 2007 itu, Ayu menulis pentingnya melindungi hak-hak pekerja. Artikel ini menjelaskan hubungan majikan-buruh merupakan pertalian yang seimbang dan sejajar serta saling menguntungkan. Dalam lead tulisannya, Ayu mengisahkan seorang pekerja korban PHK yang masih menggantung nasib pesangonnya. “Itu dari curhat seorang teman, yang mengilhami saya menulis,” tutur Ayu, Sabtu siang (7/7).

Memang, Ayu minim melakukan kegiatan reportase seperti wawancara. Ia hanya menyitir pendapat beberapa ulama, semacam Abd Wahhab asy Syisani, Ibn Hajar al Asqallani, serta beberapa hadits Nabi Muhammad. “Itu karena tulisan ini bercorak opini, bukan berita,” tutur Ayu beralasan. Ia tak sekata pun menuliskan contoh kasus nama perusahaan yang memecat karyawannya dengan sewenang-wenang.

Anda mungkin kurang akrab dengan nama Paras. Apalagi nama perusahaan yang menerbitkan majalah bersegmen wanita muslimah itu, PT Variapop Group. Namun, bisa jadi Anda langsung nyantel, jika mendengar Majalah Hidayah. Terbitan ini yang menyuguhkan kisah ajaib bernilai hikmah islami ini, merupakan salah satu produk grup Variapop.

Kebetulan juga, akhir-akhir ini, sang pemilik Hj. Wirdaningsih Aminuddin Yunus sedang pusing. Maklum, bisnis medianya sedang goncang. Dari delapan media yang dia kelola, satu per satu gulung tikar. Kini tinggal empat yang tersisa. Yakni Majalah Hidayah, Anggun, serta Paras sendiri. Satu lagi, Tabloid Berita Indonesia, terbit di Kuala Lumpur.

“Di tengah kondisi bisnis yang sedang terpuruk, tega-teganya dia menulis itu,” ungkap Wirda dari sambungan telepon seluler, Senin siang (9/7). Pitam Wirda memuncak, dengan mengirim surat PHK kepada Ayu. Wirda merasa tindakan Ayu benar-benar menusuk dari belakang. Karena itulah, mulai 9 Juli, perusahaan mengakhiri hubungan kerja ini.

Wirda sudah berupaya menyelamatkan biduk usahanya. “Total karyawan saya 150 orang. Saya tak mau tutup langsung semua media. Dengan berbagai sumber dana, saya coba subsidi masing-masing Rp2 miliar setahun,” sambungnya.

Wirda terpaksa memangkas jumlah karyawan media yang dia tutup. Wirda juga mengakui tak sekaligus melunasi pesangon sejumlah karyawannya. “Tetap saya akan bayar. Meski dengan menyicil. Saya sedih kondisi keuangan sedang buruk.”

Comment :

Menurut saya tindakan Sri Rahayu memang tidak bermaksud menjelek - jelekkan Pemilik majalah tersebut tapi dia menulis artikel itu disaat yang tidak tepat karena pada saat kondisi bisnis yang buruk,tetapi tindakan bu Wirda juga tidak bisa disalahkan karena dia merasa perbuatan saudari Sri Rahayu bisa merusak reputasi majalahnya jadi dia memecat saudari Sri Rahayu...